Guru Pancasila

pancasila

berita

guru

Ad Placement

Foto

Video

Minggu, 31 Agustus 2025

Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsaku



Anak-anakku, pernahkah kalian bertanya: “Mengapa bangsa Indonesia tetap bersatu meskipun berbeda-beda suku, agama, bahasa, dan budaya?” Jawabannya adalah karena kita memiliki Pancasila. Pancasila bukan sekadar lambang negara atau tulisan di buku pelajaran, melainkan sebuah pandangan hidup yang menyatukan kita semua.

Apa itu Pandangan Hidup?

Pandangan hidup adalah dasar atau pedoman seseorang dalam bersikap dan bertindak. Ibarat kompas, pandangan hidup memberi arah agar kita tidak tersesat. Kalau dalam kehidupan pribadi kalian punya cita-cita atau prinsip yang selalu dipegang, maka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia punya Pancasila sebagai pandangan hidup.

Dengan Pancasila, kita tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bagaimana kita memperlakukan sesama, serta bagaimana kita membangun kehidupan yang adil dan sejahtera.

Pancasila sebagai Dasar Bersama

Bangsa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, serta berbagai agama. Kalau tidak ada dasar yang menyatukan, mungkin sejak dulu kita sudah terpecah-belah. Tetapi Pancasila hadir sebagai dasar bersama yang bisa diterima oleh seluruh rakyat Indonesia.

Contohnya, sila pertama mengajarkan kita untuk bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanpa membeda-bedakan agama apa pun. Sila kedua mengingatkan kita agar selalu berperilaku adil dan beradab. Sila ketiga menegaskan bahwa meskipun berbeda-beda, kita tetap satu bangsa Indonesia. Sila keempat mengajarkan pentingnya musyawarah, dan sila kelima mengajarkan bahwa keadilan harus berlaku untuk semua, bukan hanya untuk sebagian orang.

Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya:

  • Saat kalian rajin beribadah sesuai agama masing-masing, itu berarti melaksanakan sila pertama.

  • Saat kalian menolong teman yang kesulitan, itu bagian dari sila kedua.

  • Ketika kalian tetap rukun dengan teman meskipun berbeda suku atau bahasa, itu melaksanakan sila ketiga.

  • Ketika kalian ikut rapat kelas dan memberikan pendapat dengan santun, itu contoh sila keempat.

  • Dan saat kalian berbagi makanan dengan adil kepada semua teman, itu melaksanakan sila kelima.

Dengan kata lain, Pancasila sudah menjadi bagian dari hidup kita sejak kecil, meskipun sering kita tidak menyadarinya.

Pancasila di Tengah Tantangan Zaman

Anak-anakku, kita hidup di zaman yang penuh tantangan. Media sosial sering membuat orang mudah terprovokasi. Ada yang saling menghina, menyebarkan berita bohong, bahkan menebar kebencian. Kalau kita tidak punya pandangan hidup yang kuat, mudah sekali kita ikut terbawa arus.

Di sinilah peran Pancasila. Nilai-nilainya mengajarkan kita untuk bijak, tidak mudah terhasut, dan tetap menjaga persatuan. Kalau kalian terbiasa berpikir dan bertindak sesuai Pancasila, maka kalian tidak akan mudah terpengaruh hal-hal buruk.

Pancasila juga membantu kita menghadapi masalah global. Misalnya, ketika dunia menghadapi krisis lingkungan, Pancasila mendorong kita untuk menjaga alam dengan penuh tanggung jawab. Saat banyak bangsa lain mengalami perpecahan, Pancasila mengingatkan kita untuk tetap bersatu. Dengan begitu, Pancasila tetap relevan sampai kapan pun.

Menghidupi Pancasila sebagai Generasi Muda

Sebagai generasi muda, kalian adalah penerus bangsa. Menjalankan Pancasila bukan hanya tugas orang tua atau pemerintah, tapi juga tugas kalian semua. Caranya sederhana:

  • Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar bisa memberi manfaat di masa depan.

  • Hormati guru dan orang tua sebagai wujud akhlak yang baik.

  • Jaga persahabatan tanpa memandang perbedaan.

  • Berani menyampaikan pendapat dengan santun, tetapi juga mau mendengarkan orang lain.

  • Biasakan hidup adil, jujur, dan peduli terhadap sesama.

Kalau kalian sudah membiasakan hal-hal kecil itu, berarti kalian sudah menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup kalian.


Tugas untuk Kalian

  1. Tuliskan tiga contoh perilaku kalian sehari-hari yang menunjukkan penerapan sila-sila Pancasila.

  2. Buatlah cerita singkat (5–7 kalimat) tentang bagaimana kalian menjaga persatuan dengan teman yang berbeda latar belakang.

  3. Kerjakan di buku catatan, kemudian kita akan bahas bersama di kelas.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Suara Kita, Suara Bangsa: Belajar Menyampaikan Aspirasi dengan Bijak

 


Anak-anakku, kalian pasti sering melihat berita di televisi atau media sosial tentang orang-orang yang menyampaikan pendapatnya. Ada yang melalui demonstrasi, ada yang lewat postingan di internet, bahkan ada yang membuat karya seni untuk menyuarakan isi hati. Semua itu adalah bentuk menyampaikan aspirasi, yaitu menyampaikan harapan, kritik, atau ide kepada orang lain atau pihak yang berwenang.

Di zaman sekarang, aspirasi semakin mudah disuarakan. Cukup lewat gawai dan media sosial, suara kita bisa didengar banyak orang. Namun, tidak semua orang menyampaikannya dengan cara yang baik. Ada yang marah-marah, menulis kata-kata kasar, bahkan menyebarkan hoaks. Cara seperti itu justru merugikan diri sendiri dan orang lain. Padahal, sebagai pelajar yang beriman dan berakhlak mulia, kita seharusnya bisa menjadi contoh bagaimana menyampaikan aspirasi dengan santun dan penuh tanggung jawab.

Menyuarakan Aspirasi dengan Semangat Pancasila

Sebagai bangsa Indonesia, kita punya Pancasila sebagai pedoman hidup. Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal menyampaikan aspirasi, nilai-nilai Pancasila menjadi sangat penting.

  • Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa. Menyampaikan aspirasi hendaknya dilakukan dengan hati yang bersih dan tidak melanggar ajaran agama.

  • Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Gunakan kata-kata yang sopan, tidak menyakiti orang lain.

  • Sila ke-3: Persatuan Indonesia. Aspirasi seharusnya membawa kebaikan bersama, bukan memecah belah.

  • Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Artinya, kita harus terbiasa berdiskusi, musyawarah, dan mencari solusi bersama.

  • Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Aspirasi yang baik adalah aspirasi yang memperjuangkan keadilan untuk semua, bukan hanya untuk diri sendiri.

Kalau kita bisa menghubungkan aspirasi dengan nilai Pancasila, maka suara kita akan lebih bermakna dan dihargai.

Hak dan Kewajiban dalam Menyampaikan Aspirasi

Dalam demokrasi, setiap warga negara, termasuk pelajar, memiliki hak untuk menyampaikan pendapat. Itu adalah hak asasi yang dijamin oleh UUD 1945. Namun, jangan lupa, setiap hak selalu diiringi oleh kewajiban.

  • Kita punya hak menyampaikan pendapat, tapi juga punya kewajiban untuk menghormati pendapat orang lain.

  • Kita punya hak menyampaikan kritik, tapi juga wajib memberikan solusi agar kritik itu membangun.

  • Kita punya hak berbicara, tapi juga wajib menjaga ketertiban dan kedamaian.

Kalau hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban, hasilnya tidak akan baik. Begitu juga sebaliknya, kalau kita hanya melaksanakan kewajiban tanpa memahami hak, kita akan mudah diperlakukan tidak adil. Karena itu, penting bagi kita untuk selalu menyeimbangkan keduanya.

Contoh di Kehidupan Pelajar

Coba bayangkan ada teman kalian yang merasa kantin sekolah kurang nyaman. Kalau ia hanya mengeluh di belakang, tidak akan ada perubahan. Tapi kalau ia menyampaikan aspirasi dengan baik, misalnya melalui OSIS atau guru, dengan kalimat santun seperti: “Pak/Bu, bagaimana kalau kantin ditambah tempat cuci tangan supaya lebih bersih?” maka aspirasi itu bisa menjadi solusi.

Contoh lain, kalian mungkin merasa kegiatan ekstrakurikuler di sekolah masih terbatas. Daripada hanya diam, lebih baik kalian usulkan ide kepada OSIS: “Bagaimana kalau kita menambah ekskul menulis atau teater supaya siswa lebih beragam pilihannya?” Inilah contoh sederhana bagaimana menyuarakan aspirasi dengan cara yang bijak.

Belajar dari Isu Terkini

Sekarang ini, banyak anak muda menggunakan media sosial untuk menyuarakan aspirasi, misalnya tentang lingkungan, pendidikan, atau isu sosial. Ada yang membuat video edukasi, poster digital, bahkan petisi online. Semua itu menunjukkan bahwa aspirasi bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan damai.

Namun, ada juga yang salah menggunakan media sosial dengan menyebarkan ujaran kebencian. Nah, di sinilah pentingnya semangat Pancasila: kita boleh kritis, tapi tetap santun dan beradab. Kita boleh menyuarakan hak, tapi tetap melaksanakan kewajiban.


Tugas untuk Kalian

  1. Catat Poin-point penting dari Artikel diatas

  2. Sebutkan dan jelaskan hak  dan kewajiban kalian sebagai pelajar, melihat isu-isu dan berita yang sedang viral saat ini

  3. Kumpulkan tulisan kalian minimal ½ halaman di buku catatan, lalu kita bahas bersama di kelas.

Senin, 23 Juni 2025

Download Buku Guru dan Siswa PPKn Kelas XII Kurikulum Merdeka



Dalam upaya mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menyediakan buku teks pelajaran sebagai sumber belajar utama, termasuk untuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Buku ini dirancang untuk membekali peserta didik kelas XII dengan pemahaman yang lebih dalam mengenai nilai-nilai Pancasila, prinsip demokrasi, hak asasi manusia, serta peran aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi guru, buku ini menjadi panduan penting dalam merancang pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kondisi sosial siswa. Sementara bagi siswa, buku ini tidak hanya berisi materi pengetahuan, tetapi juga sarat dengan aktivitas berpikir kritis, diskusi, dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

📥 Silakan unduh buku PPKn Kelas XII berikut ini:

Minggu, 22 Juni 2025

Sabtu, 21 Juni 2025

Sinergi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Sekolah dan Madrasah: Kekuatan, Tantangan, dan Harapan



 Oleh: Eko Budi Santoso

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memegang peran penting dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, cinta tanah air, dan memiliki kesadaran hukum serta tanggung jawab sebagai warga negara. Di berbagai satuan pendidikan, baik sekolah umum maupun madrasah, PPKn diajarkan sebagai mata pelajaran wajib. Namun, dalam praktiknya, sinergi pelaksanaan PPKn di sekolah dan madrasah memiliki dinamika tersendiri—dengan tantangan dan kelebihannya masing-masing.

Sabtu, 31 Mei 2025

Minggu, 30 Maret 2025

Kemandirian Sekolah PKBM melalui Usaha Mandiri: Solusi Berkelanjutan untuk Pendidikan

 



Pendahuluan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) memiliki peran penting dalam menyediakan pendidikan bagi masyarakat, khususnya yang tidak terjangkau oleh sistem pendidikan formal. Namun, ketergantungan pada dana pemerintah sering kali menjadi kendala dalam pengelolaan dan pengembangan PKBM. Untuk itu, konsep kemandirian sekolah PKBM melalui usaha mandiri menjadi solusi yang layak untuk dipertimbangkan.

Ide Kemandirian Sekolah PKBM

Kemandirian sekolah PKBM dapat diwujudkan melalui berbagai jenis usaha yang mampu menghasilkan pendapatan tetap untuk membiayai kebutuhan operasional sekolah. Beberapa contoh usaha yang dapat dijalankan antara lain:

  • Kebun Sawit atau Pertanian: PKBM dapat mengelola lahan pertanian atau perkebunan sawit yang hasilnya dapat dijual untuk mendukung operasional sekolah.

  • Usaha Fotokopi dan Percetakan: Menyediakan layanan fotokopi, cetak dokumen, dan penjilidan untuk siswa serta masyarakat sekitar.

  • Koperasi Sekolah: Menjual kebutuhan alat tulis, buku, seragam, dan barang kebutuhan sehari-hari.

  • Pelatihan dan Jasa: Mengadakan kursus keterampilan seperti komputer, menjahit, atau memasak dengan biaya tertentu.

  • Budidaya Hidroponik: Mengembangkan pertanian sayuran seperti seledri, kangkung, dan bayam untuk dijual di pasar lokal.

Cara Mewujudkan Kemandirian PKBM

  1. Pemetaan Sumber Daya: Mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh PKBM, termasuk lahan, tenaga kerja, dan keterampilan tutor serta peserta didik.

  2. Membentuk Tim Pengelola: Menunjuk tim khusus yang bertanggung jawab dalam pengelolaan usaha sekolah.

  3. Mencari Sumber Modal Awal: Modal dapat diperoleh dari iuran anggota, donasi, atau kerja sama dengan pihak swasta.

  4. Menjalin Kemitraan: Bekerja sama dengan pemerintah daerah, LSM, atau perusahaan untuk mendapatkan pendanaan dan pelatihan usaha.

  5. Membuat Rencana Bisnis: Menyusun perencanaan bisnis yang jelas, termasuk analisis pasar, strategi pemasaran, dan proyeksi keuntungan.

  6. Monitoring dan Evaluasi: Secara berkala mengevaluasi perkembangan usaha dan mencari cara untuk meningkatkannya.

Tantangan dalam Mewujudkan Kemandirian PKBM

  • Keterbatasan Modal: Banyak PKBM mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana awal untuk memulai usaha.

  • Kurangnya Sumber Daya Manusia yang Kompeten: Tutor atau pengelola mungkin tidak memiliki pengalaman dalam mengelola bisnis.

  • Persaingan Pasar: Usaha yang dijalankan PKBM harus bersaing dengan bisnis yang sudah mapan.

  • Perubahan Kebijakan Pemerintah: Regulasi yang berubah-ubah dapat mempengaruhi keberlanjutan usaha PKBM.

  • Minimnya Kesadaran Masyarakat: Masyarakat mungkin belum terbiasa dengan konsep PKBM yang mandiri secara finansial.

Dasar Hukum dan Regulasi

Kemandirian PKBM dapat didukung oleh berbagai regulasi yang ada di Indonesia, antara lain:

  • Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: Menyebutkan bahwa pendidikan nonformal dapat mengembangkan sumber pendanaannya sendiri.

  • Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan: Memungkinkan satuan pendidikan untuk mencari pendanaan mandiri.

  • Permendikbud Nomor 81 Tahun 2013 tentang Pendirian dan Penyelenggaraan PKBM: Menyatakan bahwa PKBM dapat mengelola sumber daya secara mandiri.

Kesimpulan

Mewujudkan PKBM yang mandiri secara finansial melalui usaha produktif bukanlah hal yang mustahil. Dengan perencanaan yang matang, pengelolaan yang profesional, serta dukungan regulasi yang ada, PKBM dapat memiliki sumber pendapatan sendiri untuk membiayai operasionalnya. Meskipun ada berbagai tantangan, dengan strategi yang tepat, PKBM dapat menjadi lembaga pendidikan yang berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada dana pemerintah



Senin, 10 Februari 2025

Pentingnya Menulis untuk Kecerdasan Pikiran: Tinjauan Berdasarkan Riset dan Penelitian Ahli



Menulis telah lama dianggap sebagai salah satu alat utama dalam pengembangan intelektual dan ekspresi diri. Aktivitas menulis tidak hanya berfungsi sebagai medium komunikasi, tetapi juga sebagai proses kognitif yang kompleks. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa kegiatan menulis dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memori, dan kreativitas. Esai ini akan mengulas beberapa temuan penelitian yang mendukung pentingnya menulis dalam meningkatkan kecerdasan pikiran.

1. Menulis sebagai Proses Kognitif yang Kompleks

Aktivitas menulis melibatkan sejumlah proses kognitif seperti perencanaan, pemilihan kata, pengorganisasian ide, dan evaluasi kembali tulisan. Flower dan Hayes (1981) dalam teori proses kognitif penulisan menjelaskan bahwa menulis adalah sebuah kegiatan yang kompleks karena melibatkan kerja memori, perhatian, serta proses metakognitif. Menurut penelitian mereka, proses perencanaan dan revisi yang dilakukan saat menulis berperan penting dalam mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis. Dengan demikian, menulis tidak hanya melatih keterampilan bahasa, tetapi juga meningkatkan fungsi eksekutif otak.

2. Menulis dan Konsolidasi Memori

Menulis memiliki peran penting dalam membantu otak mengkonsolidasikan informasi. Kellogg (2008) menekankan bahwa proses menulis dapat memperkuat ingatan dengan mengharuskan penulis untuk menyusun dan merefleksikan ide-ide yang telah dipelajari. Dengan menuangkan informasi ke dalam bentuk tulisan, seseorang lebih cenderung memahami dan menginternalisasi pengetahuan tersebut. Hal ini sejalan dengan konsep “writing-to-learn” yang menyatakan bahwa menulis merupakan salah satu strategi efektif dalam pembelajaran, karena dapat membantu mengorganisir dan menyederhanakan informasi kompleks.

3. Menulis Ekspresif untuk Kesehatan Mental dan Kognisi

Tidak hanya berperan dalam aspek akademis dan kognitif, menulis juga terbukti memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental. Penelitian oleh Pennebaker dan rekan-rekannya (1986, 1997) menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman emosional, terutama pengalaman traumatis atau sulit, dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan psikologis. Dengan demikian, kegiatan menulis ekspresif dapat membantu individu mengatasi hambatan emosional yang pada gilirannya mendukung fungsi kognitif. Kesehatan mental yang baik sangat penting untuk kinerja kognitif, karena stres dan emosi negatif diketahui dapat mengganggu proses berpikir yang optimal.

4. Menulis sebagai Sarana Pengembangan Kreativitas dan Pemecahan Masalah

Menulis juga merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kreativitas. Dengan menulis, seseorang didorong untuk mengeksplorasi ide-ide baru dan mencari cara-cara inovatif dalam menyampaikan gagasan. Proses ini melibatkan pemecahan masalah secara kreatif dan logis, yang merupakan aspek penting dari kecerdasan intelektual. Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh King (2001), menemukan bahwa menulis tentang tujuan hidup dan impian dapat memotivasi individu untuk menetapkan sasaran yang lebih tinggi dan mengembangkan strategi untuk mencapainya. Aktivitas tersebut merangsang kemampuan otak dalam mengintegrasikan informasi serta merancang solusi secara sistematis.

5. Implikasi dalam Dunia Pendidikan dan Pengembangan Diri

Dalam konteks pendidikan, penggunaan menulis sebagai alat bantu belajar telah mendapatkan banyak perhatian. Graham dan Perin (2007) mengungkapkan bahwa latihan menulis secara teratur dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analisis siswa. Implementasi teknik “writing-to-learn” dalam kurikulum pendidikan telah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep-konsep abstrak dan mendorong diskusi yang lebih mendalam. Selain itu, menulis jurnal atau catatan harian dapat menjadi media refleksi diri yang mendukung perkembangan pribadi dan kecerdasan emosional.

Kesimpulan

Berdasarkan tinjauan beberapa penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kecerdasan pikiran. Aktivitas menulis tidak hanya melatih keterampilan bahasa, tetapi juga mengasah fungsi kognitif seperti memori, perhatian, dan pemecahan masalah. Menulis ekspresif juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental, yang secara tidak langsung mendukung kinerja kognitif yang optimal. Oleh karena itu, mendorong kegiatan menulis sejak dini, baik dalam konteks pendidikan maupun pengembangan diri, merupakan langkah strategis untuk membentuk individu yang lebih kreatif, kritis, dan resilien.

Referensi

  1. Flower, L., & Hayes, J. R. (1981). A cognitive process theory of writing. College Composition and Communication, 32(4), 365-387.
  2. Kellogg, R. T. (2008). Training writing skills: A cognitive process theory perspective. Journal of Writing Research, 1(1), 1-26.
  3. Pennebaker, J. W., & Beall, S. K. (1986). Confronting a traumatic event: Toward an understanding of inhibition and disease. Journal of Abnormal Psychology, 95(3), 274-281.
  4. Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process. Psychological Science, 8(3), 162-166.
  5. Graham, S., & Perin, D. (2007). Writing next: Effective strategies to improve writing of adolescents in middle and high schools. Alliance for Excellent Education.
  6. King, L. A. (2001). The health benefits of writing about life goals. Personality and Social Psychology Bulletin, 27(7), 798-807.

Ad Placement

kelas

civic

ppkn